Game of Phone – Rahasia Mendapatkan Customer Melalui Telepon

telephone cover

Di suatu siang bolong saya mendapat telepon dari nomor asing yang tidak saya kenal.

Saya pun mengangkat telepon saya.

 

Saya : Halo?

Penelepon : Halo, selamat siang. Apa benar ini dengan Bapak Arisman?

Saya : Emm, iya betul, darimana ini Bu?

Penelepon : Perkenalkan saya *sensor* dari Bank *sensor*. Boleh minta waktunya sebentar?

Saya : Oke.

 

Keputusan yang salah.

Si penelepon terus berbicara selama 3 menit, tanpa memberi kesempatan bagi saya untuk berkata apapun.

Okay, I am listening, tapi terus terang saya tidak bisa menangkap apa yang ingin dia sampaikan.

 

Penelepon : Seperti itu Bapak, apakah dapat kami bantu aplikasinya?

Saya : Mohon maaf, saya belum butuh Bu. Terima kasih.

 

Saya pun menutup telepon.

The call ended.

 

Mendapatkan Customer Melalui Telepon

Apakah Anda pernah mengalami hal yang sama dengan saya?

Bagaimana rasanya?

Ataukah Anda pernah berada di posisi si penelepon?

Sorry, but I don’t like Cold Call.

Saya rasa kebanyakan orang pun tidak suka.

Apabila Anda masih melakukan Cold Calling dan merasa cara ini tidak cocok / efektif untuk Anda, maka Anda perlu membaca Post ini.

 

Apa itu Cold Calling?

Sebelumnya mari kita bahas sedikit pengertian dari Cold Calling.

Cold Calling adalah kegiatan menelepon prospek untuk menawarkan produk atau servis yang dijual. Namun prospek ini belum mengenal si penelepon, bahkan mungkin belum mengenal perusahaan, produk, atau servis yang ditawarkan pula.

Seperti yang saya alami.

 

liam neeson taken

I don’t know who you are, but I won’t find you

photo by dailystar.co.uk

 

Seberapa efektifkah Cold Calling?

Menurut penelitian terhadap tim agen properti, hanya 1% dari Cold Call dapat menghasilkan pertemuan lebih lanjut dengan prospek.

Kecil sekali!

Artinya, dari 100 kali telepon, kurang lebih akan menghasilkan 1 prospek yang berminat dan membuat janji temu.

Apabila si penelepon cukup handal dan memberikan tawaran menarik, mungkin persentase nya akan lebih besar.

Namun pada intinya, data menyimpulkan bahwa Cold Calling tidak begitu efektif.

 

Mengapa Cold Calling Tidak Begitu Efektif?

Apa yang Anda rasakan ketika ada orang yang tidak dikenal menelepon Anda, mengganggu kegiatan Anda, dan berbicara menghafal teks seperti robot?

Anda pasti berpikir,

Apa ini? Mengganggu saja.

Tahu dari mana nomor saya?

Apakah ada yang menjual data pribadi saya?

Just info, privasi data pribadi sebetulnya dilindungi hukum.

 

liam phone

I don’t know who you are, but you tell me to believe you and purchase your product?

photo by denofgeek.com

 

Apa yang lebih baik dari Cold Calling?

Oke, kalau begitu apa solusinya?

Kita dapat menggunakan Warm Calling.

Apa bedanya?

Yang satu dingin, satu lagi hangat.

Yang hangat sudah pernah tahu dan menunjukkan ketertarikan terhadap produk atau jasa yang ditawarkan.

Mana yang menurut Anda lebih efektif?

Menelepon orang yang belum tahu apa-apa (Cold Calling)

Atau menelepon orang yang sudah tertarik dengan barang Anda (Warm Calling)

Tentu saja Warm Calling bukan?

 

Cara Melakukan Warm Calling

Anda tertarik untuk mempelajari Warm Calling?

Keep reading.

Pada intinya Warm Calling adalah sebuah kegiatan lanjutan.

Follow-up.

Anda perlu melakukan effort untuk pengenalan terlebih dahulu.

Karena Blog ini ditujukan untuk kaum milenial, tentu saja cara yang saya bagikan adalah cara digital dengan memanfaatkan internet.

 

Langkah Pertama : Buat Website

Pertama Anda perlu membuat website yang berisi informasi mengenai produk atau jasa Anda.

Buat website dengan desain dan copywriting yang sebaik mungkin.

Tujuannya agar pengunjung website Anda tertarik dan percaya terhadap barang yang Anda tawarkan.

Jangan lupa untuk menampilkan Contact Form dan WhatsApp Chat di website.

Dengan kedua fitur tersebut, pengunjung yang berminat dapat meninggalkan identitas diri mereka.

Yang berarti, mereka memberikan Anda izin untuk melakukan kontak.

Baca juga : Plugin Lainnya yang Anda butuhkan

Note :

Sebaiknya Anda mempercayakan pembuatan website kepada ahlinya. Apabila Anda bersikeras ingin membuatnya sendiri, Anda dapat mempelajari dasarnya di sini.

 

Langkah Kedua : Jangkau Pengunjung

Selanjutnya, kita perlu menarik pengunjung ke website yang sudah dibuat.

Manfaatkan Social Media dan Paid Ads.

Anda juga dapat melakukan Cold Email ke prospek yang potensial.

Di sini Cold Email tidak bertujuan untuk langsung mencetak deal, tapi lebih untuk mengenalkan website dan produk Anda ke prospek.

Gunakan layanan tracking email, seperti Gmass, untuk mengetahui prospek mana saja yang sudah membuka email Anda, sehingga Anda dapat mengirimkan email susulan.

 

Langkah Ketiga : Eksekusi

Jika Anda melakukan kedua langkah di atas dengan benar, Anda akan memperoleh cukup banyak kontak prospek yang tertarik dengan barang Anda.

Telepon prospek Anda yang kini sudah “hangat”.

Yakinkan prospek bahwa produk Anda mampu memberikan value yang mereka cari.

Dengan cara ini, prospek yang akan mencari Anda, Anda cukup melakukan follow-up.

That’s it.

happy call

 

Kesimpulan

Apakah Cold Calling sudah mati?

Melihat masih banyaknya Cold Calling, saya rasa Cold Calling belum mati.

Mungkin saja, buat sebagian orang Cold Calling masih efektif dan menguntungkan.

Apabila Anda masih mendapatkan hasil yang bagus dari Cold Calling, maka keep doing it.

Tapi apabila Anda ingin menghemat tenaga Anda dan mencari cara yang lebih produktif, Anda dapat mencoba cara di atas.

Pasti lebih menyenangkan.

 

Penutup

Bagaimana menurut Anda?

Apakah Anda lebih memilih melakukan Cold Calling?

Ataukah Anda mulai beralih ke Warm Calling?

Bagikan pengalaman dan pendapat Anda di kolom komentar.

Sharing is caring!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *